Kamis, 21 Juni 2012

tugas mahasiswa unanda



PERKEMBANGAN BENIH


DI SUSUN OLEH :

IPUTU SUMARIANTO
2009 12 032

               PROGRAM STUDI ( AGROTEKNOLOGI)
                    UNIVERSITAS ANDI DJEMMA
        TAHUN  2011

. KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjat kan kehadiran tuhan yang maha kuasa atas terselesainya makala yang berjudul PERKEMBANGAN BENIHini penyusun juga mengucapkan terimakasi atas dukungan bapa/ibik dosen dan teman-teman sekalian yang sagat membantu terselesainya makala mengenai PERKEMBANGAN BENIH
 Melalui makala ini kami juga igin menginpormasikan masukan kepada para pembaca mengenal USAHA namun penyusun menyadari bahwa penyusun masih mempunyai kekurangan dalam penyusunan makalaini.karena itu kami memintak saran dan kritikan atas makala ini dan kami juaga memperbaiki lebih baik kedepan.
Masamba,MARET 2011



Penyusun





i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................ii
BAB.I.PENDAHULUAN...........................................................................1
a.latarbelakang……………………………………………………….. 1
b.tujuan……………........................................................................’4
BAB.II.PEMBAHASAN………………………………………………………..3
a.perkembangan benih………………………….……………………..3
b.mempengaruhi hidup benih………….……………..………………..4
C.tanda-tanda kenaikan benih…………………………………………8
D.ciri proses deteriosi…………………………..………………………...6

BAB.III.KESIMPULAN..............................................................................9

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kualitas benih yang terbaik tercapai pada saat benih masak fisiologis karena pada saat benih masuk fisiologis maka berat kering benih, viabilitas dan vigornya tertinggi. Perlu dicatat bahwa viabilitas dan vigor tertinggi yang dimaksud tidak harus 100%.
                 Pengalaman beberapa negara berkembang khususnya negara-negara latin yang gandrung memakai teknologi dalam industri yang ditransfer dari negara-negara maju (core industry) untuk pembangunan ekonominya seringkali berakibat pada terjadinya distorsi tujuan. Keadaan ini terjadi karena aspek-aspek dasar dari manfaat teknologi bukannya dinikmati oleh negara importir, tetapi memakmurkan negara pengekspor atau pembuat teknologi. Negara pengadopsi hanya menjadi konsumen dan ladang pembuangan produk teknologi karena tingginya tingkat ketergantungan akan suplai berbagai jenis produk teknologi dan industri dari negara maju Alasan umum yang digunakan oleh negara-negara berkembang dalam mengadopsi teknologi (iptek) dan industri, searah dengan pemikiran yang menyebutkan bahwa untuk masuk dalam era globalisasi dalam ekonomi dan era informasi harus melewati gelombang agraris dan industrialis. Hal ini didukung oleh itikad pelaku pembangunan di negara-negara untuk beranjak dari satu tahapan pembangunan ke tahapan pembangunan berikutnya.
1
benih yang menyebabkan menurunnya vigor dan viabilitas benih merupakan awal kegagalan dalam kegiatan pertanian sehingga harus dicegah agar tidak mempengaruhi produktivitas tanaman. Sadjad (1994) menguraikan vigor benih adalah kemampuan benih menumbuhkan tanaman normal pada kondisi suboptimum di lapang, atau sesudah disimpan dalam kondisi simpan yang suboptimum dan ditanam dalam kondisi lapang yang optimum. Viabilitas benih merupakan daya hidup benih yang dapat ditunjukkan dalam fenomena pertumbubannya, gejala metabolisme, kinerja kromosom atau garis viabilitas sedangkan viabilitas potensial adalah parameter viabilitas dari suatu lot benih yang menunjukkan kemampuan benih
menumbuhkan tanaman normal yang berproduksi normal pada kondisi lapang
yang optitum.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan benih.
2.      Untuk mengetahui ciri prose deteriorasi atau kemunduran benih.
3.      Untuk mengetahui tanda-tanda kemunduran benih
4.      Untuk mengetahui kemungkinan penyebab kemunduran benih









2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian perkembangan Benih
Kemunduran benih dapat menimbulkan perubahan secara menyeluruh di dalam benih dan berakibat pada berkurangnya viabilitas benih (kemampuan benih berkecambah pada keadaan yang optimum) atau penurunan daya kecambah. Proses penuaan atau mundurnya vigor secara fisiologis ditandai dengan penurunan daya berkecambah, peningkatan jumlah kecambah abnormal, penurunan pemunculan kecambah di lapangan (field emergence), terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman, meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan yang ekstrim yang akhirnya dapat menurunkan produksi tanaman (Copeland dan Donald, 1985).
perkembangan benih merupakan proses kenaikan mutu secara berangsur-anngsur dan kumulatif serta tidak dapat balik (irreversible) akibat perubahan fisisologis yang disebabkan oleh faktor dalam. Kemunduran benih beragam, baik antarjenis, antarvarietas, antarlot, bahkan antarindividu dalam suatu lot benih.
Kemunduran benih adalah mundurnya mutu fisiologis benih yang dapat menimbulkan perubahan menyeluruh di dalam benih, baik fisik, fisiologi maupun kimiawi yang mengakibatkan menurunnya viabilitas benih (Sadjad, 1994).

3
Kemunduran benih dapat diterangkan sebagai berikut:
1.      Yang dimaksud laju deteriorasi adalah berapa besarnya penyimpanagna terhadap keadaan optimum untuk mencapai maksimum. Hal ini dipengaruhi oleh dua peristiwa, yaitu:
2.      Merupakan sifat genetis benih Kemunduran benih karena sifat genetis biasa disebut proses deteriorasi yang kronologis artinya, meskipun benih ditangani dengan baik dan faktor lingkungannya pun mendukung namun proses ini akan tetap berlangsung.
3.      Karena deraan lingkungan Proses in biasa disebut proses deteriorasi fisiologis. Proses ini terjadi karena adanya faktor lingkungan yang tidak sesuai dengan persyaratan penyimpanan benih, atau terjadi penyimpangan selama proses pembentukan dan prosesing benih.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hidup Benih
Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi factor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor , kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal antara lain kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan (Copeland dan Donald, l985).
1.      Faktor internal benih

4
Faktor internal benih mencakup kondisi fisik dan keadaan fisiologinya. Contoh: benih yang retak, luka, dan tergores akan lebih cepat mengalami kemunduran. Faktorinduced selama perkembangan benih di lapangan mempengaruhi keadaan fisiologinya, sebagai contoh terjadi kekurangan mineral (seperti N, K, Ca), air, dan suhu yang ektrim di lapangan.
2. Kelembaban nisbi (relative humidity=RH) dan temperatur.
a.       RH mempengaruhi kadar air benih, dan kadar air benih mempengaruhi mempengaruhi respirasi benih.
b.      RH lingkungan dipengaruhi oleh suhu (T) lingkungan
c. RH dan T saling berkaitan dan mempengaruhi kemunduran benih:
1) setiap penurunan kadar air 1% menggandakan masa hidup dua kali, dan
2)setiap penurunan suhu ruang simpan 5Co akan menggandakan masa hidup benih dua kali.
C. Tanda-tanda kenaikan Benih
1. Gejala Fisiologis
Menurut Toole, Toole dan Gorman (dalam Abdul Baki dan Anderson. 1972), kemunduran benih dapat ditunjukkan oleh gejala fisiologis sebagai betikut: (a) terjadinya perubahan warna benih (b) tertundanya perkecambahan; (c) menurunnya, toleransi terhadap kondisi lingkungan sub optimum selama perkecambahan (d) rendahnya toleransi
5
terhadap kondisi simpan yang kurang sesuai (e) peka terhadap radiasi; (f) menurunnya pertumbuhan kecambah; (g) menurunnya daya berkecambah, dan (h) meningkatnya jumlah kecambah abnormal. Abdul Baki dan Anderson (1972) mengemukakan indikasi biokimia dalam benih yang mengalami kemunduran viabilitas adalah sebagai berikut: (a) perubahan aktivitas enzim (b) perubahan laju respirasi; (c) perubahan di dalam cadangan makanan; (d) perubahan di dalam membran, dan (e) kerusakan kromosom.
Gejala fisiologis dipengaruhi pula oleh:
A.    Aktivitas enzim menurun: dehidrogenase, glutamat dekarboksilase, katalase, peroksidase, fenolase, amilase, sitokrom oksidase.
B.     Respirasi menurun : konsumsi O2 rendah, produksi CO2 rendah, produksi ATP rendah
C.     c.Bocoran metabolit meningkat: menjadikan nilai daya hantar listrik meningkat dan gula terlarut menigkat
D. Ciri proses deteriorasi
Benih yang mengalami proses deteriorasi akan menyebabkan turunnya kualitas dan sifat benihjika dibandingkan pada saat benih tersebut mencapai masa fisiologinya.
Turunnya kualitas benih dapat mengakibatkan viabilitas dan vigor benih menjadi rendah yang pada akhirnya akan mengakibatkan tanaman menjadi buruk. Hal ini dapat

6
dilihat pada tanaman di lahan yang memiliki viabilitas yang tinggi dan hasil panen yang menjadi jelek.
RC. Mabesa (1993) mencirikan proses deteriorasi sebagai berikut :
1)      Proses ini merupakan proses yang tidak dapat ditawar, pasti terjadi pada semnua benih. Yang berbeda hanyalah laju deteriorasinya saja.
2)      Proses ini merupakan proses yang searah. Benih yang telah mengalami deteriorasi tidak akan kembali ke keberadaan semula, meskipun dengan memberikan perlakuan tertentu padanya.
3)      deteriorasi benih ini di waktu kemudian berhubungan erat dengan kondisi linkungan dan penanganannya.

Delouche dan Baskin (1973) menggambarkan proses (sequence)
terjadinya deteriorasi dalam benih sebagai berikut :
Berkurangnya laju respirasi
a.       Benih yang telah mengalami deteriorasi setelah terjadinya imbibisi mempunyai laju respirasu yang lebih rendah disbanding benih yang belum mengalami deteriorasi. Hal ini disebabkan oleh aktivitas enzim respirasi yang mulai menurun.
b.      Peningkatan kandungan asam lemak dalam benih (increase in fatty acid). Pada benih yang telah mengalami deteriorasi akan meningkat kandungan asam lemaknya


7
c.       Laju perkecambahan rendah (slower germination rate) Benih yang telah mengalami deteriorasi jika dikecambahkan maka laju perkecambahannya rendah, yang berarti benih membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkecambah.
d.      Laju pertumbuhan kecambah lambat (slower rate of growth development). Benih yang telah mengalami deteriorasi setelah berkecambah maka pertumbuhan kecambahnya akan menjadi lambat.
e.       Berkurangnya daya tahan menghadapi tekanan lingkungan. Benih atau kecambah dari benih yang telah mengalami deteriorasi memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyimpangan kondisi lingkungan.
f.       Kecambah tidak mampu muncul di lahan. Kecambah dari ben ih yang telah mengalami deteriorasi seringkali tidak dapat muncul ke permukaan tanah karena kecambah tersebut kekurangan energy









8
BAB III
KESIMPULAN
A.KESIMPULAN
Pencemaran lingkungan akan menyebabkan menurunnya mutu lingkungan hidup, sehingga akan mengancam kelangsungan makhluk hidup, terutama ketenangan dan ketentraman hidup manusia.
Adanya pengertian dan persepsi yang sama dalam memahami pentingnya lingkungan hidup bagi kelangsungan hidup manusia akan dapat mengendalikan tindakan dan perilaku manusia untuk lebih mementingkan lingkungan hidup.
Kemauan untuk saling menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup merupakan itikad yang luhur dari dalam diri manusia dalam memandang hakekat dirinya sebagai warga dunia.
Untuk mengatasi permasalahan terjadinya kemunduran mutu benih baik yang diakibatkan oleh faktor penyimpanan maupun diakibatkan oleh faktor kesalahan dalam penanganan be-nih, dapat dilakukan dengan melakukan teknik “invigorasi”. Invigorasi adalah suatu perlakuan fisik atau kimia untuk meningkatkan atau memperbaiki vigor benih yang telah mengalami kemun-duran mutu (Basu dan Rudrapal, 1982).

9